Pindah Blog

Saatnya pindah blog, kepengen bikin blog baru dengan konsep blog yang baru…

Dan blog ini dipindah ke:

???????????????????????????????????????

Masih dirahasiakan, kalo blog barunya dah rame nanti akan dipost disini link blog barunya..

Semangat!!!

Beberapa hari ini merasakan kesuntukan yang amat sangat. Rutinitas KP yang semakin membosankan ditambah tujuan hidupku yang semakin kabur…

Tapi untung ada serial Super sentai Goseinger ini… Udah lama rasanya aku gak nonton power ranger, waktu pertama kali aku lihat video opening song serial ini otakku serasa klik kanan refresh. Haha… Kenapa? Karena aku bisa melihat semangat para Gosei Angels (begitu sebutan untuk tim power ranger ini) bertarung melawan musuh mereka. Melihat video tersebut aku tersadar bahwa aku selama ini aku kehilangan semangatku.

Iya… Semangat, itulah sesuatu hal yang berharga yang kini hilang dalam diriku.

Baiklah mulai saat ini aku akan bersemangat. Aku akan melindungi dunia dari segala kejahatannya. Hwahahaha…

Yah… begitulah…

Mimpi dan Keserakahan

Astagfirullah… Beberapa hari ini aku benar-benar menjadi kehilangan arah sama sekali. Aku tak tahu harus kemana. Aku takut harus melangkah kemana. Aku takut apa yang aku lakukan semata-mata untuk keserakahan. Aku takut jika ternyata mimpi yang aku kejar selama ini hanya sebuah keserakahan yang hina.

Aku sudah bosan hidupku yang selama ini dituntun oleh keserakahanku. Aku muak dengannya.

Ya Allah, bimbing hambaMu ini. Aku tak tahu harus kemana melangkah. Oleh karena itu, aku serahkan diriku padamu. Aku ingin Kau menuntun kembali hambaMu ini ke jalan yang benar. Aku ingin melayaniMu…

1.5 Hz (Bagian 8)

“Kak, sedang apa kau disini?”

Aku hanya diam mendengar pertanyaannya. Pikiranku sangat kacau, ingin meledak rasanya tubuh ini. Habis sudah jiwa ini tercabik-cabik. Kesedihan, kemarahan tercampur ganas dalam dadaku kini. Sesak dan tangisan yang terisak… . Kini aku merasa dipermainkan oleh sang waktu, mereka berkata hidupku tak akan panjang lagi. Dan penyakit terkutuk ini, membunuhku perlahan. Dulu aku mengharap kematian cepat datang padaku, tapi kini aku takut mati. Aku tak mau berpisah lagi dengan adikku, aku telah mencintainya dengat amat sangat. Aku ingin melindunginya sampai ke pelaminannya.

“Dik, jangan kau cintai kakakmu ini secara berlebihan atau aku akan sulit pergi melepaskanmu. Cintailah segala sesuatu ala kadarnya, bisa jadi apa yang kau cintai sekarang akan menjadi sesuatu yang kau benci kelak” batinku

“Aku tak tahu apa yang sedang kakak pikirkan. Tapi aku ingin kakak tahu bahwa kakak memiliki aku, adikmu” katanya dengan nada halus

Mendengar ucapannya, tangisanku semakin menjadi. Dan angin sore berhembus kuat melewati sekujur tubuhku yang basah akan keringat dingin. Sayup-sayup firman-Nya berbisik dalam hatiku.

Di cakrawala sang matahari terbenam syahdu…
Ketika langit bersenandung tahmid tanpa ragu…
Berakhirpula ramadhanku…
Detak jantungku, laguku…


1.5 Hz (Bagian 7)

Kupandangi sejenak isi ruangan ini, hanya tinggal seorang pemuda yang tak aku kenal masih sibuk bermain dengan sendok dan piringnya. Lalu perhatianku aku alihkan ke wanita tua tadi. Ia memberiku tiga lembar seribuan dan sekeping uang logam seribuan. Kumasukkan uang itu ke dalam sakuku. Kuanggukkan kepalaku dan sedikit tersenyum kepadanya lalu keluar dari tempat ini.

Jalanan masih sepi dan sekali-kali udara dingin berhembus di atasnya. Pikiranku melayang-layang jauh dan hinggap dalam sebuah bingkai memori bertuliskan 1 Ramadhan 1930. Saat itu aku dan Faruq baru saja selesai shalat tarawih, ia bercerita tentang bulan padaku. Katanya di setiap malam sang bulan selalu merasa kesepian. Ia merasa berbeda dengan berjuta bintang di sekelilingnya. Ia hanya bisa melihat sahabatnya Matahari dari kejauhan. Tapi, tatkala ia ingin menangis, ia urungkan niatnya setiap kali manusia di bumi tersenyum padanya. Ia terhibur setiap kali Allah memberinya pujian atas usahanya menyinari bumi di malam hari. Saat itu Faruq juga menambahkan bahwa tak mengapa aku hidup bersama kesendirian asal masih ada Allah di hatiku.

Akupun tiba di sebuah pesantren tempat dimana adikku baru saja lulus, dan juga tempat aku bekerja sekarang. Dan mungkin tempat dimana aku akan menghembuskan nafas terakhirku. Dari kejauhan kulihat seorang gadis muda berkerudung putih sedang menyapu dedaunan. Ia memandangku, tersenyum padaku, menghampiriku lalu mencium tangan kananku.

Dan adzan subuh berkumandang, inikah cinta yang aku tunggu…


1.5 Hz (Bagian 6)

Kupercepat langkahku, cepat-cepat dan akhirnya akupun berlari. Jantungku berdetak lebih cepat, mungkin dua kali lebih cepat dari biasanya. Tak kuperdulikan lagi penyakit yang ada dalam diriku. Yang kutahu, aku hanya ingin berlari dan berlari membayar sang waktu.

Langkahku berhenti di depan sebuah gerbang, ada dua orang satpam yang sedang bermain catur di sana. Aku hampiri kedua satpam tersebut lalu kuungkapkan keperluanku. Dan merekapun mempersilahkanku. Kucoba melihat jam tanganku, 22.37 . Sejenak kupandangi tempat itu, sudah sepi dan gelap, cuma ada beberapa lampu di pojokan yang masih menyala dan suara televisi dari pos satpam tadi. Jantungku berdetak semakin cepat walau aku tak dalam keadaan berlari, dan akupun semakin gusar. Aku melangkah masuk, selangkah dua langkah tiga langkah, pada langkah ketujuh aku menemukan seorang gadis sedang tertidur dalam duduknya. Pakaiannya sangat rapi, dan dipangkuannya terdapat sebuah map, dan AlQuran diatasnya. Kudekati dirinya, dan ketika aku berada persis didepannya tubuhku tiba-tiba diam membatu. Aku tak tahu harus bagaimana, seluruh hati dan pikiranku amat kacau. Dan gadis itu terbangun perlahan menyadari keberadaanku. Ia melihatku sekilas dengan wajah lelahnya lalu tiba-tiba ia membenamkan mukanya kedalam kedua belah tangannya dan menangis. Ia terisak-isak amat dalam, melihatnya hatiku yang telah lama kering ini, basah kuyup seketika.

11 tahun, ia menungguku dan malam ini kami bertemu…


1.5 Hz (Bagian 5)

Kereta api yang aku naiki melaju pelan di atas batang-batang baja yang panjang itu. Kulihat jam tanganku untuk ketujuh kalinya. Pukul 20.29, sudah hampir 4,5 jam aku duduk disini, terjebak dalam kereta ini. Terlambat… sudah sangat terlambat. Seharusnya satu setengah jam yang lalu aku sudah tiba di stasiun tujuanku. Tapi, kini aku masih harus menempuh seperempat perjalanan lagi. Semua ini gara-gara hujan deras yang menyebabkan banjir ditambah arus mudik yang terjadi. Jarum-jarum jam tanganku berputar dengan pasti diatas tanganku yang bergetar cemas.

Kuambil sepucuk surat didalam sakuku, kucoba membacanya sekali lagi surat itu. Kata perkata, baris perbaris. Hingga sampai pada bait terakhir dari surat itu:

… Kak zain, sudah 11 tahun kita terpisah. Dan akhirnya Laili telah menemukan dimana Kak Zain sekarang. Karena Laili belum mendapat hari libur dari pesantren, Laili belum bisa mengunjungi kakak sekarang. Laili akan sangat senang jika kakak bisa datang diacara kelulusan Laili di pesantren tanggal 8 september 2009 jam 19.00 bada isya’…

Adikku Laili, karena suatu hal, takdir membuat kami terpisah sejak 11 tahun yang lalu. Saat itu kami hidup berdua menggelandang. Tak punya orang tua, tak punya siapa-siapa. Dan kamipun terpisah, tak ada kabar lagi tentang dirinya. Kupikir ia telah mati kelaparan disebuah sudut kota. Dan akupun berhenti mencari dirinya.

Tapi, dua hari yang lalu, aku mendapatkan surat ini. Surat yang tak pernah aku tunggu-tunggu namun ternyata mampu mengisi ruang yang telah lama kosong dalam diriku. Ternyata ia mencariku, ternyata di sebuah bagian di dunia ini seseorang sedang menungguku. Entah, aku tak tahu bagaimana caranya ia bisa menemukan alamatku. Dan aku sebagai kakak yang tak bertanggung jawab malah sibuk menunggu kematian yang akan segera datang menjemputku. Aku malu menemuinya, tapi aku ingin menemuinya dan memeluknya.

Dan keretapun melaju dibawah hujan deras, aku memandang keluar lewat jendela kaca yang sudah berembun di sampingku.

Dik, tidurlah jangan tunggu aku…