1.5 Hz (Bagian 4)

Ia telah pergi, pergi mendahuluiku. Ia yang mengakui diriku sebagai temannya, kini terbujur kaku dibawah sana. Atas penyakitku, seharusnya aku yang lebih dulu. Tapi sepertinya waktu sedang bermain dengan diriku. Slide-slide tentang dirinya bermain dalam benakku. Dan di sebuah tempat terdalam, hati ini terpecik. Tak sadar, sebuah air mata jatuh diatas gundukan tanah basah di hadapanku. Dan segalanya lebih menyedihkan di sore itu.

Di tengah Ramadhan kelabu, di bawah pohon kamboja, aku…
Dapatkah aku menyebut ia sebagai sahabatku…