1.5 Hz (Bagian 4)

Ia telah pergi, pergi mendahuluiku. Ia yang mengakui diriku sebagai temannya, kini terbujur kaku dibawah sana. Atas penyakitku, seharusnya aku yang lebih dulu. Tapi sepertinya waktu sedang bermain dengan diriku. Slide-slide tentang dirinya bermain dalam benakku. Dan di sebuah tempat terdalam, hati ini terpecik. Tak sadar, sebuah air mata jatuh diatas gundukan tanah basah di hadapanku. Dan segalanya lebih menyedihkan di sore itu.

Di tengah Ramadhan kelabu, di bawah pohon kamboja, aku…
Dapatkah aku menyebut ia sebagai sahabatku…


1.5 Hz (Bagian 3)

“Zain, yuk ke masjid sekarang”

Namanya Faruq, umurnya 23 tahun tak jauh beda denganku. Mungkin hanya ia yang masih mau mengajakku berteman. Aku tak tahu apa yang ingin ia minta dariku. Aku tak tahu dibalik senyumannya padaku. Aku sudah terlalu lama sendiri sejak hari itu. Hari itu, satu dekade yang lalu aku kehilangan senyumku.

“Eh, Zain, besok buka bareng di rumahku yuk. Kau juga bisa mengajak beberapa temanmu” ajak Faruq sambil berjalan menuju masjid.

“Teman?” tak satu pun nama terlintas dalam benakku.

“Oh… . Baiklah kau bisa menganggapku sebagai temanmu” jawabnya dengan tenang.

“Terserah kau” kataku dengan nada datar.

“Baiklah, mulai hari ini aku temanmu. Sebagai gantinya, kau cukup mempercayaiku. Karena seorang teman selalu mempercayai temannya” tawarnya padaku

Kami berdua melewati sebuah gang kecil saat adzhan maghrib berkumandang. Ramadhan telah datang, dan aku masih belum tahu bahwa ramadhan kali ini akan mengubah hidupku.

Semburat tali cakrawala merah jambu, Ramadhan dan diriku


Rindu Gila

Saat menulis posting ini, aku berharap bisa menuangkan rasa stresku. Sejam serasa setahun… sehari serasa seabad… Bolak-balik melihat layar Hape… Bolak balik melihat jendela…. Udah gak nafsu sama game… TVpun terasa kabur. Memang rindu bisa membuat seseorang berhenti dan terus menanti.

Itulah perasaan yang aku sedang rasakan saat menulis post ini. Rindu dengan keluarga dan sahabat.

Semakin sering aku bertemu dengan mereka. Semakin sakit rasa perpisahan itu. Semakin keras tawaku bersama mereka semakin keras tangisanku diujung.

Sempat aku merasa senang saat menyadari bahwa aku muak dengan game-gameku. Aku senang karena aku dapat fokus ke belajar. Tapi akan tetapi, pikiranku terasa buntu semuanya tersumbat oleh rasa rindu yang menggumpal keras.

Waktu telah menunjukkan masuk ashar. Akupun beranjak sholat ashar. Sesusai sholat, aku bertanya pada-Nya “Kenapa Kau menanamkan rasa rindu dalam hati manusia?. Rasa Rindu yang membuatku seperti mayat hidup ini. Berikan aku jawaban bagaimana cara mengatasi semua ini”

Memang untuk pertama kalinya rasa rindu ini membuatku terdiam. Tak ada gairah untuk melakukan suatu apapun. Perlahan tapi pasti, hati ini merapuh. Hanya berharap ada seseorang lain yang dapat menemani diriku yang sedang kesepian.

Kini aku percaya bahwa rasa rindu dapat membuat orang putus asa bahkan sampai bunuh diri.

Adakah sesuatu yang dapat membuatku bangkit dalam rinduku. Adakah pertemuan yang tanpa kata perpisahan.

Ya Allah, hambamu ini sangat lemah.

Wahai Dzat yang tidak membutukhan makhluknya, Aku membutuhkan keluargaku dan sahabatku.

<maaf tulisannya acak-acakan. lagi gak sempet menuangkan perasaan ini dalam bentuk puisi. Pikiran buntu sebuntu-buntunya>

Surat Cinta No.1

Selamat malam Tuhanku

Hari ini, untuk pertama kalinya dalam kurun waktu setahun ini aku berpuasa

Untung saja tadi shubuh kau membangunkanku, terimakasih ya Allah

Setelah bangun aku langsung mencoba membangunkan beberapa teman kosku

Hmm… sehabis itu aku cari makan sahur, ya Allah

Tapi, maaf seribu maaf ya Allah karena aku tak menghabskan semua nasiku

Soalnya porsi nasinya emang banyak sekali ya Allah.

Ya Allah, saat aku menjalani puasa ini aku merasa sangat senang

Apakah kau mau tahu ya Allah

Tentu saja kau sudah tahu ya Allah karena Kau zat yang Maha Tahu

Hari ini aku senang karena aku tak merasakan perut yang terlalu kenyang

Bagiku perut yang terlalu kenyang sangat tidak nyaman

Tapi, aku juga harus jujur ya Allah

Tadi sore aku sangat kelaparan… hehehe…

Aapi entah kenapa lapar itu malah terasa nikmat

Anehkan ya Allah :p

Ya Allah

Boleh aku minta sesuatu padaMu

Aku ingin kau memberiku seorang sahabat

Seorang sahabat seperti yang pernah aku miliki waktu aku SD

Oh ya…

Aku juga minta

Maukah kau mengajariku tentang cinta

Cinta yang paling mulia yang pernah ada

Sampai disini saja suratku Ya Allah 😉

Pintaku yang terakhir adalah jagalah tidur malamku I-)

Aku di Sampingmu Kawan…

Desir angin ini membelaiku
Cahaya mentari menyapu wajahku

Tapi…
Kenapa kau diam membisu
Sinar wajahmu meredup muram
Siapakah yang mencuri semangatmu

Adakah luka padamu
Masihkah keraguan menyelimutimu

Mengapa kau tak tahu
Kau tak tahu aku disampingmu
Mengapa kau tak mau berkisah padaku
Berkisah tentang luka itu

Kau tak pernah menghiraukanku
Padahal aku disampingmu
Aku yang setia menunggumu

Jabat tangan ini
Biarkan tangan ini membantumu
Biarkan pundak ini menjadi sandaranmu

Terbanglah tinggi, aku sayapmu
Menyelamlah yang dalam, aku insangmu

Matahari malu karena kau lebih terang
Bulanpun iri karena mimpimu sangat tinngi

Terbitkan semangatmu

Aku disini
Aku disampingmu
Tahukah kau Sahabatku

Jika aku lulus dari ITB.

Insya Allah, tidak sampai 3 tahun lagi aku akan lulus dari ITB. Ada beberapa hal yang mengusik aku sejak dulu. Hal itu adalah rasa rindu. Aku merasa sangat sedih jika membayangkan 3 tahun lagi semua kisahku di ITB akan berakhir. Dan berkemungkinan besar akan benar-benar berakhir. Aku harus berpisah dengan sahabat-sahabatku. 3 tahun lagi kami akan dipisahkan oleh jarak beratus-ratus kilometer. Tak bisa kubanyangkan rasa rindu seperti apa yang akan meledak di hari saat aku meninggalkan bandung 3 tahun lagi. Komunikasi lewat YM, friendster, blog sepertinya tak cukup bagiku. Walaupun akan ada reuni, toh reuni akan membuatku menunggu lama 10-20 tahun dan juga belum tentu semua temanku akan hadir dalam acara reuni tersebut. Jarak yang sangat jauh ini sangat menyiksaku. Lain halnya dengan teman-teman SMA, SMP, SD yang jika aku pulang ke Semarang mereka hanya berjarak beberapa ratus meter dariku. Semakin erat tali persahabatan ini semakin sakit pula jika tali ini harus ditarik saling menjauh. 3 Tahun lagi. Kenapa setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Apakah untuk menghindari perpisahan aku tak boleh bertemu dengan seseorang. Kenapa kami harus berpisah hanya karena pekerjaan, pendidikan atau pernikahan. Aku tak tahu harus berbuat apa untuk mengisi 3 tahun mendatang. Satu tahun telah berlalu. Perlahan lahan semuanya akan berakhir.

Ya.. Allah mengapa kau ciptakan rasa rindu ini.

Ada sesuatu yang perlu kau ketahui kawan
“Kita pernah bersama”