1.5 Hz (Bagian 8)

“Kak, sedang apa kau disini?”

Aku hanya diam mendengar pertanyaannya. Pikiranku sangat kacau, ingin meledak rasanya tubuh ini. Habis sudah jiwa ini tercabik-cabik. Kesedihan, kemarahan tercampur ganas dalam dadaku kini. Sesak dan tangisan yang terisak… . Kini aku merasa dipermainkan oleh sang waktu, mereka berkata hidupku tak akan panjang lagi. Dan penyakit terkutuk ini, membunuhku perlahan. Dulu aku mengharap kematian cepat datang padaku, tapi kini aku takut mati. Aku tak mau berpisah lagi dengan adikku, aku telah mencintainya dengat amat sangat. Aku ingin melindunginya sampai ke pelaminannya.

“Dik, jangan kau cintai kakakmu ini secara berlebihan atau aku akan sulit pergi melepaskanmu. Cintailah segala sesuatu ala kadarnya, bisa jadi apa yang kau cintai sekarang akan menjadi sesuatu yang kau benci kelak” batinku

“Aku tak tahu apa yang sedang kakak pikirkan. Tapi aku ingin kakak tahu bahwa kakak memiliki aku, adikmu” katanya dengan nada halus

Mendengar ucapannya, tangisanku semakin menjadi. Dan angin sore berhembus kuat melewati sekujur tubuhku yang basah akan keringat dingin. Sayup-sayup firman-Nya berbisik dalam hatiku.

Di cakrawala sang matahari terbenam syahdu…
Ketika langit bersenandung tahmid tanpa ragu…
Berakhirpula ramadhanku…
Detak jantungku, laguku…


1.5 Hz (Bagian 1)

Kuhabiskan sesendok nasi terakhir dari piringku itu, lalu kuambil sebuah gelas bening berisi air putih hangat disampingnya. Kuminum air itu, hangat… cukup hangat untuk shubuh yang dingin itu. Aku beranjak dari tempat dudukku menghampiri seorang wanita tua dibelakangku.

“Nasi, sop, ama ayam goreng.”kataku pelan sambil menyodorkan selembar uang sepuluhribuan kepadanya.

“Oh, enam ribu mas” katanya dengan ramah.

Kupandangi sejenak isi ruangan ini, hanya tinggal seorang pemuda dibawah sebuah lampu redup yang tak aku kenal masih sibuk bermain dengan sendok dan piringnya. Lalu perhatianku aku alihkan ke wanita tua tadi. Ia memberiku tiga lembar seribuan dan sekeping uang logam seribuan. Kumasukkan uang itu ke dalam sakuku, kuanggukkan kepalaku dan sedikit tersenyum kepadanya
lalu keluar dari tempat itu. Jalanan masih sepi dan sekali-kali udara dingin berhembus di atasnya.

Sepi, dingin dan kaku…
Dan di sana kematian menantiku…
28 Ramadhan 1430H, di sebuah jalan jiwa ini menangis ragu…