Aku dan Bosscha

1 November 2008, 2 minggu yang lalu.

Di dalam angkot

Di dalam angkot

Saat itu aku sangat bahagia karena akhirnya aku bisa menghirup bau Bosscha secara langsung. Perjalanan dimuali sekitar pukul 2 sore dari gerbang belakang ITB. Aku dan beberapa teman-teman pergi naik angkot jurusan Ledeng. Dan setelah berbicara dengan sopir, akhirnya pak sopir bersedia kalau mobilnya di carter sampai di Bosscha. Dalam perjalanan, suara tawa kami mengalahkan suara hujan diluar sana.

Setelah cukup lama membuat keributan di dalam angkot,

Lagi Mikir soal UTS

Lagi Mikir soal UTS

kamipun turun dari angkot, kami sempat kaget ketika melihat banyaknya pengunjung disana walaupun isinya anak – anak SD semua. Kami pun mengaku kami dari SD Alste (Alumni Sma 3 Semarang). Maklum, soalnya hari itu Bosscha mengadakan Open House, jadi banyak pengunjung disana.

Payung-Payung Hujan

Payung-Payung Hujan

Setelah puas melihat pameran astronomi, kamipun melanjutkan perjalanan ke gedung Bosscha. Rhorom si penunjuk jalan mengarahkan kami melewati jalan setapak yang becek karena air hujan. Di bawah air hujan itu kami berjalan mendekati sebuah gedung.

Aku tak percaya, kini aku bisa melihat langsung Bosscha dari dekat. Inikah Bossha, dimana Sherina dan Sadam pernah disekap. Pelahan-lahan aku memasuki ruangan yang ada di depanku. Sebuah benda berbentuk silinder besar menjulang kokh di depanku. Tapi, aku tersenyum kecut lagi saat melihat banyak anak sd disana. Waduh-waduh…aku dan teman-teman terlihat sangat tua disana.

Setelah puas foto-foto, kamipun meninggalkan gedung. Aku dan teman-teman menghampiri sebuah toko yang menjual pernak-pernik Bosscha. Aku sempat melakukan tawar-menawar yang melelahkan disana. Karena bapak penjualnya pelit (ups… maap pak!) aku membeli sebuah gantungan kunci berbentuk gedung Bosscha tanpa potongan harga sekalipun.

Lalu kamipun mencari sebuah masjid untuk melaksanakan Sholat Maghrib. Allahu Akbar…

Makan Mie

Makan Mie

Mengingat kami semua sudah lapar, sebelum pulang kami mencari makan malam. Kamipun menemukan sebuah warung makan dengan harga jual yang mahal(aduh…aduh). Setelah sedikit kecewa saat mendapatkan makanan yang tidak sebanding dengan biaya yang kami keluarkan, kami pun pulang dengan menaiki angkot lagi. Karena kata pak sopir berkata bahwa kalau lewat jalan biasa kami akan terjebak macet maka pak sopir membawa kami ke sebuah jalan berkelak kelok yang hitam. Aku sempat berpikir bapak sopir akan membawa kami ke sebuah tempat yang jauh dari keramaian dan kami akan diculik (ihh serem) Tapi akhirnya aku sampai juga di sebuah jalan raya yang aku kenal. Sesampainya di persimpangan sangkuriang, Aku, Mas Aswin, Mas Hanif dan Lamda turun dari angkot dan melanjutkan perjalanan ke kos masing-masing dengan jalan kaki.

Bosscha… Sampai Jumpa

Aku dan Bosscha

Aku dan Bosscha

Terimakasih Ya Allah

Advertisements

SUPER EKSTRA HOT RAMEN

Semalam aku mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Setelah berbuka puasa dan shalat maghrib, aku dan beberapa teman kosku pergi ke Ciwalk. Kami berencana pergi ke Gokana Teppan. Sesampainya disana kami harus menunggu sampai kami mendapatkan jumlah kursi yang pas untuk kami berenam. Setelah setengah jam menunggu, kami masuk dan memesan makanan yang telah kami rencanakan sebelumnya yaitu SUPER EKSTRA HOT RAMEN. Setelah memesan kamipun masih harus menunggu… 😦 Sambil menunggu kami memakan kripik pedas yang kami ambil di meja depan. Disela-sela penantianku aku terhentak kaget dengan suara tabuh yang diikuti teriakan “Yatta….” Gak tau artinya apa… Untuk mengisi waktu kosong kami berenam bercanda dan berbicara gak jelas (ngalor-ngidul). Temanku yang bernama Luthfi Azizi Gumay mendapatkan makanannya pertama sebab ia hanya memesan daging coklat dengan sayur tapi lupa namanya apa, sedangkan aku dan teman-teman lain yang memesan super extra hot ramen harus menunggu beberapa menit lagi. Tapi untung saja minuman yang kami pesan telah disajikan. Menunggu dan menunggu dan semua berakhir saat makanan yang kami pesan datang. Aku mendapatkan Super Ekstra Hot Ramen Tempura. Jika kami bisa menghabiskan seluruh isi dari mie ramen dalam 20 menit, kami akan mendapatkan voucer makan gratis Gokana 6. Karena itulah kami berlima berlomba-lomba menghabiskan seluruh mie ramen yang luar biasa pedasnya.

Dan kelualah temanku Arif sebagai pemenangnya dengan waktu 4 menit untuk menghabiskan mie ramennya, lalu Fikri, Wahyu, dan Lamda menyusul. Tinggal akulah yang belum menghabiskan mie ramenku. Aku sempat menyerah karena melihat kuah mie ramen yang sangat banyak dan harus aku habiskan semuanya. Sebetulnya aku tidak begitu tergiur akan hadiahnya akan tetapi karena masih ada sisa waktu maka aku meneruskan makananku. Aku ambil mangkok mie ramenku lalu aku tuangkan kuah mie ramen itu langsung ke mulutku. Saat-saat itu adalah saat yang menegangkan bagiku. Otaku hanya berkata “ ayo Safak…cepet entekke kuahe (ayo safak ..cepat habiskan kuahnya)”. Selama beberapa detik mulutku penuh akan kuah merah itu dan akhirnya sumua kuah berhsil aku masukkan kedalam perutku. Sesaat aku menyadari bahwa tiba-tiba kupingku terasa amat panas. Panas sekali. Teman-temanku sempat menertawakanku. Tapi tak apalah… walaupun sedikit menyiksa diri tapi aku mampu membuktikan bahwa aku bisa menyelesaikan mie ramenku dalam 18 menit.

Akupun melebarkan mulutku berharap uap pedas dalam mulutku cepat hilang. Dan akupun mendapaaaatkan voucer makan gratisku.

Training MHMMD PMBR 2008

Acara training MHMMD – PMBR MSTEI beberapa hari lalu berlangsung cukup meriah. Hari itu aku harus berlari dari GKU Barat ke Selasar Atsitektur untuk memberitahu bahwa acara training yang semula diadakan di selasar Arsitektur berpindah tempat di Selasar GKU timur. Tak ketinggalan juga aku harus berlari-lari atu lebih tepatnya dikatakan berjalan agak cepat untuk mencari tempat print untuk sertifikat bagi kak Rendy Saputra. Tak perlu bercerita panjang lebar, pokoknya hari itu cukup menyenangkan. Berikut foto-foto yang diambil waktu acara berlansung.

Jika aku lulus dari ITB.

Insya Allah, tidak sampai 3 tahun lagi aku akan lulus dari ITB. Ada beberapa hal yang mengusik aku sejak dulu. Hal itu adalah rasa rindu. Aku merasa sangat sedih jika membayangkan 3 tahun lagi semua kisahku di ITB akan berakhir. Dan berkemungkinan besar akan benar-benar berakhir. Aku harus berpisah dengan sahabat-sahabatku. 3 tahun lagi kami akan dipisahkan oleh jarak beratus-ratus kilometer. Tak bisa kubanyangkan rasa rindu seperti apa yang akan meledak di hari saat aku meninggalkan bandung 3 tahun lagi. Komunikasi lewat YM, friendster, blog sepertinya tak cukup bagiku. Walaupun akan ada reuni, toh reuni akan membuatku menunggu lama 10-20 tahun dan juga belum tentu semua temanku akan hadir dalam acara reuni tersebut. Jarak yang sangat jauh ini sangat menyiksaku. Lain halnya dengan teman-teman SMA, SMP, SD yang jika aku pulang ke Semarang mereka hanya berjarak beberapa ratus meter dariku. Semakin erat tali persahabatan ini semakin sakit pula jika tali ini harus ditarik saling menjauh. 3 Tahun lagi. Kenapa setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Apakah untuk menghindari perpisahan aku tak boleh bertemu dengan seseorang. Kenapa kami harus berpisah hanya karena pekerjaan, pendidikan atau pernikahan. Aku tak tahu harus berbuat apa untuk mengisi 3 tahun mendatang. Satu tahun telah berlalu. Perlahan lahan semuanya akan berakhir.

Ya.. Allah mengapa kau ciptakan rasa rindu ini.

Ada sesuatu yang perlu kau ketahui kawan
“Kita pernah bersama”

Ketika matamu tenggelam

Cukuplah larimu hari ini kawan
Hinggaplah dalam ayunan gelap menenangkan
Bersihkan lukamu, buang perihmu
Rebahkan mimpimu seindah awan

Wajahmu tenang
Nafasmu mengayun lirih
Matamu tenggelam perlahan

Bermimpilah kawan
Angankan senyummu
Dapatkan semua cintamu
Ku disini kan menjagamu

Tidurlah kawan
Aku di sampingmu

Pulang Malam, Makan Sate

27 juli 2008, hari yang melelahkan bagiku. Setelah mengikuti rentetan acara MBC hari itu aku harus pulang malam. Malam itu aku pulang bersama lima temanku Yanwar, Rachmat, Aslih, Aat dan Lilian. Yanwar bertugas mengantarkan Lilian ke kosnya di daerah Taman Hewan. Aku menemani Yanwar – Rachmat meneman aku – Aslih menemani Rachmat – dan Aat menemani Aslih. Begitulah kami saling menemani. Kami menusuri jalan Ganesha sambil berharap tak ada kotoran burung jatuh di kepala kami. Lalu daerah taman hewan pun kami telusuri, lumayan jauh ternyata kos milik Lilian. Dan sesampai di depan kos Lilian kami berempat pun berbalik arah sedangkan Aat berjalan megikuti jalan lurus di depannya. Kami berempat terpaksa naik angkot Cicaheum berwarna hijau dan turun di pertigaan patung gajah karena angkot Cisitu yang biasa yang kami naiki sudah tidak ada beroperasi diatas pukul sembilan malam. Lalu kami meneruskan dengan jalan kaki dan berhenti disebuah warung makan sate ayam di pinggir jalan. Kami pun memesan 4 piring nasi dan memakannya dengan lahap. Dan aku menjadi juara karena paling cepat makan. Lalu kami berjalan lagi dan berjalan terus sambil membayangkan kasur dan bantal yang empuk. Satu persatu dari kami pun berpencar. Tinngal aku dan Rachmat. Seseorang temanku yang lain bernama Itong menghampiriku dengan sepeda motornya lalu aku dan rachmat membonceng hingga sampai ke depan pusdiklat geologi. Lalu kami turun dan berjalan lagi dengan cepat menyambut kasur dan bantal empuk di kamar.