1.5 Hz (Bagian 1)

Kuhabiskan sesendok nasi terakhir dari piringku itu, lalu kuambil sebuah gelas bening berisi air putih hangat disampingnya. Kuminum air itu, hangat… cukup hangat untuk shubuh yang dingin itu. Aku beranjak dari tempat dudukku menghampiri seorang wanita tua dibelakangku.

“Nasi, sop, ama ayam goreng.”kataku pelan sambil menyodorkan selembar uang sepuluhribuan kepadanya.

“Oh, enam ribu mas” katanya dengan ramah.

Kupandangi sejenak isi ruangan ini, hanya tinggal seorang pemuda dibawah sebuah lampu redup yang tak aku kenal masih sibuk bermain dengan sendok dan piringnya. Lalu perhatianku aku alihkan ke wanita tua tadi. Ia memberiku tiga lembar seribuan dan sekeping uang logam seribuan. Kumasukkan uang itu ke dalam sakuku, kuanggukkan kepalaku dan sedikit tersenyum kepadanya
lalu keluar dari tempat itu. Jalanan masih sepi dan sekali-kali udara dingin berhembus di atasnya.

Sepi, dingin dan kaku…
Dan di sana kematian menantiku…
28 Ramadhan 1430H, di sebuah jalan jiwa ini menangis ragu…


Aku memilih takdirku

Ketuk… mengetuk..
Langkah kakiku mengetuk
Mengetuk jiwa sepi sana-sini.

Bara-membara
Semangatku membara api
Membakar kebekuan mimpi

Jiwa pemberani telah bangkit.
Pendekar legenda telah datang
Aku memilih takdirku

Takdir berasal dari mimpi
Masa depan adalah hari ini
Dan kekuatan adalah cinta itu sendiri

Mempermainkan ruang dan waktu
Menjadi titik kritis dalam sejarah
Akulah sang pemberi keputusan
footprint

Laut

Laut… di depanku terhampar sebuah laut yang begitu luas. Dan tak lupa sebuah matahari yang kini tampak malu di balik garis horizon sana. Langit dan lautnya tampak memadu serasi saat itu. Serasi seperti sepasang kekasih yang takkan mampu dipisahkan. Ya, takkan ada seorangpun yang mampu memisahkan langit dan laut itu. Bereka berdua berhimpit indah dalam garis horizon dimana sang nelayan hanya tampak seperti titik hitam mungil mengambang.

Aku duduk di tepi bibir sang laut. Sekali-kali aku melihat beberapa burung laut yang berkejaran dengan temannya dan ada juga yang menantang bermain kepada angin kencang. Ombak-ombak laut tak kenal lelahnya menyerbu batu karang menunjukkan kekuatannya. Dan Batu karang hanya tersenyum diam melecehkan usaha ombak yang sia-sia.

Tapi aku sendiri, hanya bersama alam aku tersenyum sepi. Aku ingin menjadi debur ombak yang menyatu dalam kemeriahan tarian laut. Menjadi buih dan lenyap hilang dalam kesendirianku ini. alone-on-a-beach1