Sebel

Bikin 5 buah essay tugas MBC tapi otak gak bisa diajak kompromi.

huhuuuuh 😦

ARGH……. Kamarku Berantakan

Sabtu, 2 Juni 2008 dalam perjalanan pulang ke kosan. Aku pulang ke tempat favoritku dengan segera. Kurang lebih jalan sepanjang 100 meter aku tapaki. Jalan di bawah langit malam yang gelap itu sudah sepi. Hanya ada segerombol pemuda dipingggir jalan dengan canda tawa dan alunan musik mereka. Gerombolan tersebut terlihat seperti segerombolan preman yang siap menerkam mangsanya untuk menguras dompet mangsanya. Yah, ternyata itu hanya prasangka burukku saja. Sudah hampir sekian ratus jalan ini aku lewati, tak pernah ada preman yang mendatangiku. “Dasar” pikirku dalam hati. Jalan berkelok, kaku nan dingin akan hembusan angin malam itu akhirnya menghantarkanku ke depan kosanku. Aku masukkkan kunci pintu yang tipis milikku kedalam lubang kunci. “Klek” terdengar suara dari lubang kunci itu pertanda pintu sudah dapat di buka. “Jder” terpaksa kubuat suara itu untuk menutup pintu. Lalu aku menaiki sebuah tangga besi tua yang melingkar dan sampai ke lantai kedua. Aku melihat 4 buah pintu berdiri di depanku. Lalu aku berjalan menghampiri sebuah pintu yang terletak nomor dua dari kiri. Aku ambil kunci milikku yang lain dan berbeda dengan kunci sebelumnya kali ini kunci berbentuk sedikit lebih tebal dengan beberapa lekukan yang khas. Kubuka pintu dengan perlahan dan sesuatu mengejutkan aku sadari. ARGH……! Telah terjadi angin puyuh dalam kamarku(Ini cuma majas hiperbola lho). Buku-buku bertebaran dimana-mana. Sampah plastik yang menyebalkan berserakan menertawakanku. Lantai-lantai berdebu dan debu-debu itu menyusup dalam otakku membuat otakku pusing. Aku tenggelamkan diriku ke dalam buaian kasur. Lalu aku perhatikan sekelilingku, buku, plastik, debu, selimut, komputer. Continue reading

Pulang Malam, Makan Sate

27 juli 2008, hari yang melelahkan bagiku. Setelah mengikuti rentetan acara MBC hari itu aku harus pulang malam. Malam itu aku pulang bersama lima temanku Yanwar, Rachmat, Aslih, Aat dan Lilian. Yanwar bertugas mengantarkan Lilian ke kosnya di daerah Taman Hewan. Aku menemani Yanwar – Rachmat meneman aku – Aslih menemani Rachmat – dan Aat menemani Aslih. Begitulah kami saling menemani. Kami menusuri jalan Ganesha sambil berharap tak ada kotoran burung jatuh di kepala kami. Lalu daerah taman hewan pun kami telusuri, lumayan jauh ternyata kos milik Lilian. Dan sesampai di depan kos Lilian kami berempat pun berbalik arah sedangkan Aat berjalan megikuti jalan lurus di depannya. Kami berempat terpaksa naik angkot Cicaheum berwarna hijau dan turun di pertigaan patung gajah karena angkot Cisitu yang biasa yang kami naiki sudah tidak ada beroperasi diatas pukul sembilan malam. Lalu kami meneruskan dengan jalan kaki dan berhenti disebuah warung makan sate ayam di pinggir jalan. Kami pun memesan 4 piring nasi dan memakannya dengan lahap. Dan aku menjadi juara karena paling cepat makan. Lalu kami berjalan lagi dan berjalan terus sambil membayangkan kasur dan bantal yang empuk. Satu persatu dari kami pun berpencar. Tinngal aku dan Rachmat. Seseorang temanku yang lain bernama Itong menghampiriku dengan sepeda motornya lalu aku dan rachmat membonceng hingga sampai ke depan pusdiklat geologi. Lalu kami turun dan berjalan lagi dengan cepat menyambut kasur dan bantal empuk di kamar.