1.5 Hz (Bagian 7)

Kupandangi sejenak isi ruangan ini, hanya tinggal seorang pemuda yang tak aku kenal masih sibuk bermain dengan sendok dan piringnya. Lalu perhatianku aku alihkan ke wanita tua tadi. Ia memberiku tiga lembar seribuan dan sekeping uang logam seribuan. Kumasukkan uang itu ke dalam sakuku. Kuanggukkan kepalaku dan sedikit tersenyum kepadanya lalu keluar dari tempat ini.

Jalanan masih sepi dan sekali-kali udara dingin berhembus di atasnya. Pikiranku melayang-layang jauh dan hinggap dalam sebuah bingkai memori bertuliskan 1 Ramadhan 1930. Saat itu aku dan Faruq baru saja selesai shalat tarawih, ia bercerita tentang bulan padaku. Katanya di setiap malam sang bulan selalu merasa kesepian. Ia merasa berbeda dengan berjuta bintang di sekelilingnya. Ia hanya bisa melihat sahabatnya Matahari dari kejauhan. Tapi, tatkala ia ingin menangis, ia urungkan niatnya setiap kali manusia di bumi tersenyum padanya. Ia terhibur setiap kali Allah memberinya pujian atas usahanya menyinari bumi di malam hari. Saat itu Faruq juga menambahkan bahwa tak mengapa aku hidup bersama kesendirian asal masih ada Allah di hatiku.

Akupun tiba di sebuah pesantren tempat dimana adikku baru saja lulus, dan juga tempat aku bekerja sekarang. Dan mungkin tempat dimana aku akan menghembuskan nafas terakhirku. Dari kejauhan kulihat seorang gadis muda berkerudung putih sedang menyapu dedaunan. Ia memandangku, tersenyum padaku, menghampiriku lalu mencium tangan kananku.

Dan adzan subuh berkumandang, inikah cinta yang aku tunggu…


Advertisements

1.5 Hz (Bagian 2)

Tahukah kau, dalam keadaan normal setiap menit jantung manusia berdetak sebanyak 60 – 100kali. Secara matematis mungkin sekitar 1,5 Hertz, ya itulah frekuensi detak jantung manusiadalam keadaan normal. Lalu dalam 1.5 Hertz itu apa yang ada dalam jantungmu itu tiap kali iaberdetak? Kebencian kah? Kasihsayangkah kah? Atau keputusasaan? Atau mungkin kau tak merasakan apa-apa didalam jantungmu?

Aku memainkan tombol-tombol telpon genggamku. Hanya dan cuma sekedar memainkan tombolnya, namun pandanganku kosong menatap tampilan layarnya yang berubah setiap kali aku memencetsebuah tombol.

“Bip”

Sebuah pesan masuk, aku baca teks dilayar telepon genggamku.

“Zain, ntar malem tarawih bareng yuk!”

Aku baru menyadari bahwa nanti malam adalah malam pertama di bulan ramadhan. Aku sudahmerasa tak peduli lagi dengan apa yang disebut ramadhan. Aku telah lama lupa akan maknaramadhan, atau lebih tepatnya aku tak pernah merasakan apa itu makna ramadhan yang seringdibahas oleh Pak Ustadz dalam pengajian di kampungku. Bagiku ramadhan hanya milik orang tertentu saja. Ia hanya milik kaum-kaum suci di sana bukan aku. Ia hanya sekedar sebuah hari dengan orang-orang lemas dan malam dimana manusia terlihat begitu rakus.

Pikiranku melayang pada ramadhan-ramadhanku tahun lalu yang kosong, amat kosong tanpa suatu hal yang berarti. Akankah ramadhan kali ini akan sehampa biasanya? batinku

Siang itu, matahari sangat terik. Kakiku menapak mengikuti sebuah jalan di depanku, sebuah jalan yang membelah hamparan sawah kering yang ditelantarkan oleh pemiliknya. Di atas aspal yang panas dan di tengah-tengah hamparan sawah kering hanya aku sendiri di situ. Sangat sunyi, kecuali suara angin dan suara sandal buntutku yang menyeret. Kosong… tak jauh beda dengan hatiku yang selalu terisi oleh kekosongan. Tiap jantung ini berdetak, tak ada apa-apa di dalam sana kecuali lubang kekosongan yang menganga. Sebuah lubang kosong yang selalu siap menelanku dalam lamunan, dan lamunan itupun kosong. Aku tak tahu apa itu cinta, bahkan menurutku cinta itu tak ada, atau mungkin hanya ada dalam buku-buku dongeng dan sinetron.

Aku sudah cukup lama hidup sendiri. Orang-orang di sekelilingku terasa sungguh membosankan. Aku bosan dengan sandiwara dunia ini, aku muak dengan manusia yang hidup dalam kepura-puraan itu. Senyuman mereka, uluran tangan mereka dan sesuatu yang mereka inginkan di belakangnya. Benar-benar oportunis, tak ada lagi pengorbanan tanpa pamrih. Tapi, semuanya ini akan segera berakhir bagiku, begitulah yang dikatakan sang waktu kepadaku. Aku tahu hidupku tak lama lagi. Aku ingin segera mengakhiri semua kebosanan ini, secepatnya.


Awal mula, dimana semuanya dimulai termasuk kisah ini.


Aku memilih takdirku

Ketuk… mengetuk..
Langkah kakiku mengetuk
Mengetuk jiwa sepi sana-sini.

Bara-membara
Semangatku membara api
Membakar kebekuan mimpi

Jiwa pemberani telah bangkit.
Pendekar legenda telah datang
Aku memilih takdirku

Takdir berasal dari mimpi
Masa depan adalah hari ini
Dan kekuatan adalah cinta itu sendiri

Mempermainkan ruang dan waktu
Menjadi titik kritis dalam sejarah
Akulah sang pemberi keputusan
footprint

Di bawah langit yang mulai membiru

Pagi itu udara sangat terasa sejuk. Kesejukan yang berbalut sinar hangat mentari yang masih malu. Dan kehangatan yang sama persis hangatnya dengan perasaanku saat itu. Kabut tipis menyapu semua benda yang ada di sekelilingku. Dan sinar putih seputih susu menerjang kabut-kabut itu.

Langkahku pelan, pelan di belakang sosok itu. Sosok wanita yang umurnya tak jauh beda denganku, ia lebih muda beberapa bulan dariku. Kami telah mengenal satu sama lain cukup lama tapi sudah sekitar dua tahun aku tidak berjumpa denganya. Dan pagi ini, aku bersyukur dapat bertemu dan menyapanya akrab. Dan entah kenapa aku begitu senang saat ia memintaku untuk menemaninya berbelanja.

Ya, ia berjalan di depanku. Berjalan lurus, dan 2 meter di belakangnya ada aku yang hanya bisa melihat punggungnya. Langkah-langkahnya begitu sederhana… sangat sederhana. Namun kesederhanaan langkah itu terlihat begitu mewah di hatiku. Suara langkahnya terdengar begitu keras di telingaku mengalahkan ramainya pasar di pagi itu. Melangkah … melangkah … dan melangkah terus ke depan, dan aku sadar detak jantungku mengikuti irama langkahnya. Tiba-tiba langkahnya berhenti, dan aku tersentak kaget. Aku terdiam untuk beberapa saat. Dan secara sembunyi-sembunyi aku memastikan apakah jantungku juga ikut berhenti berdetak. Aku mengela napas lega setelah meyakinkan bahwa jantungku masih berdetak walaupun iramanya sedikit kacau seakan meminta irama langkah yang dari tadi menuntunnya dengan indah.

Kini sosok itu berhenti di depan seorang wanita tua yang sedang menjual buah mangga. Ia tersenyum pada wanita tua di depannya. Senyumnya begitu hangat, lebih hangat daripada kehangatan yang bisa diberikan oleh matahari pagi itu. Aku yakin kehangatan itu mampu melelehkan hati seorang lelaki yang melihatnya, termasuk aku yang sedang gelisah mengetahui ada sesuatu yang meleleh tiba-tiba di dalam dadaku.

Kini aku berada persis di sampingnya, di depan tumpukan buah mangga yang telah ranum. Hatiku bersorak kegirangan saat ia berada persis di sampingku, entah kenapa aku tak tahu. Aku memejamkan mataku memastikan tak ada campur tangan setan dalam kisahku di pagi itu. Mataku terpejam pada dunia dan melihat ke dalam hatiku. Tulus… hanya ketulusan di dalamnya, sebuah perasan tentang kasih sayang umat manusia. Perasaan yang merupakan kodrat makhluk ciptaan dari Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Dalam keterpejaman mataku, aku merasakannya. Aku merasakan gerak-geriknya, gerak tangannya memilih beberaa buah mangga. Dan, oh telingaku… telingaku bisa mendengar dengan jelas hembusan nafasnya. Nafas yang tiap hembusannya merupakan bukti syukur akan kehidupan yang telah diberikan-Nya. Semua ini… perasaan ini… aku… . Tiba-tiba angin pagi menerpa sejuk ke tubuhku. Berhembus begitu indah di sekujur kulitku dan sesaat berbisik pada suara hatiku. Lalu mengalir menjauh membawa doa dan harapanku.

Aku membuka mataku dan ia masih berada di sampingku. Ia menoleh padaku dan tersenyum untukku. “Aku akan melindungi senyummu” kataku begitu pelan berharap hanya dapat didengar oleh telingaku sendiri. “Hah” katanya seakan ia baru saja mendengar suara tak jelas keluar dari mulutku. Dan angin pagi berhembus kuat untuk kedua kalinya. Ia tersenyum dan memejamkan matanya menikmati kesejukan yang dibawa angin itu. Dan akupun mengikutinya memejamkan mataku.

Di bawah langit yang mulai membiru, antara ia dan aku… .

morning-sky

Love & Hate

Sebanyak apapun rasa benci di dunia, cinta akan pernah mati

Aku Jatuh Cinta

Hati ini menjadi gemuruh ombak

Bergulung mengempas pantai

Langkah ini terhenti segera

Pikiranpun menghilang entah kemana

Apakah ini cinta?

Caramu bersyair…

Caramu berperan

Aku terbisu

Tak ada pentunjuk bagiku

Apa-apaan semua ini

Apakah ini cinta?

Mengapa aku berkorban

Mengapa aku berlari

Mengapa demimu

Ada sesuatu yang besar dalam hati ini

Panas membakar ruang kosong itu

Apakah ini cinta

Aku jatuh cinta

Catatan:

Cuma pengen tahu aja, begitukah rasa yang dialami saat manusia jatuh cinta

Jatuh cinta kepada Allah dan rasulNya

atau kepada pacarnya

Atau bahkan pada harta dan kedudukannya

Surat Cinta No.2

Selamat pagi, Allah

Terimakasih karena Kau telah membangunkanku, mengajakku untuk sahur…

Tadi aku sempat kaget lho…, kenapa? Soalnya aku mendengar dendang arak-arakan sahur keliling. Soalnya sejak hari pertama sahur, arak-arakan sahur itu tidak ada. Sempat aku berpikir bahwa tahun ini tak ada arak-arakan yang membangunkanku untuk sahur. Tapi, ternyata dugaanku salah dan aku senang karena dugaanku salah.

Ya Allah, aku ingin minta maaf karena kemarin aku tidak menyempatkan waktuku untuk sholat tarawih. Saat itu aku harus meyelesaikan laporan praktikum rangkaian elektrik. Aku juga malu, karena ternyata beberapa menit ketika mengerjakan laporan aku malah tertidur pulas. Sia-sia pengorbananku untuk shalat tarawih. Walaupun aku sering nakal tetapi malam itu sekitar pukul 11 malam Kau membangunkanku lagi. Akupun langsung sadar akan kelalaianku dan akupun langsung menantang komputerku untuk mengerjakan laporanku. Pukul menunjukkan 2 dini hari, Walaupun laporan belum selesai aku merasa ngantuk dan terbius pulas dalam ayunan mimpi semu. Beberapa kali aku membuka mataku, aku tahu bahwa aku harus makan sahur. Tapi mata kantuk ini membuatku malas untuk bangun. Dan hasil terburuk yang aku dapat yaitu aku tidak sahur. Setelah bangun dan melaksanakan aku langsung bermain lagi dengan komputer sampai waktu menunjukkan 12 siang. Dan… maafkanlah hambamu yang kotor ini ya… Allah. Karena sibuk mengerjakan laporan, aku tertinggal Sholat Jum’at. Mengetahui hal itu aku langsung menggantinya dengan sholat Dzuhur. Selain meminta maaf aku juga berterimakasih karena laporanku telah selesai dengan sempurna. Walaupun begitu, aku sempat tersenyum kecut melihat laporan yang dibuat dengan mengorbankan sholat tarawih dan jum’at.

Hiks…Hiks… (tangisan hati seorang Musyafa’) Ya..Rabbi, aku merasa sedih karena praktikum algoritma dan struktur dataku gagal habis.

Mengingat bahwa aku tidak sahur aku membeli makanan untuk berbuka puasa yang lebih dari biasanya. Tapi Alhamdulillah, semalam aku sempat shalat terawih. Walaupun aku shalat tarawih, tapi sesudahnya aku ketiduran lagi (“dasar pemalas”). Sampai pukul 2.00 tadi aku terbangun dengan masih berpakaian sarung dan baju koko.

Shubuh ini sungguh indah, entah pergi kemana si bulan. Ketidak hadiran si bulan, malah membuatku dapat melihat bintang dengan jelas. Melihat berjuta bintang itu, aku teringat akan Kau. Saat aku menulis surat ini ya… Allah, Aku berterima kasih karena kau selalu menyayangiku. Aku tahu bahwa aku selalu berbuat nakal, tetapi tanpa peduli kau terus memelukku. Tetes air mata terima kasih ini tak akan ku sia-siakan. Aku akan berusaha menjadi hambamu yang bisa kau banggakan.

Terima kasih….

Aku mencintaimu