1.5 Hz (Bagian 6)

Kupercepat langkahku, cepat-cepat dan akhirnya akupun berlari. Jantungku berdetak lebih cepat, mungkin dua kali lebih cepat dari biasanya. Tak kuperdulikan lagi penyakit yang ada dalam diriku. Yang kutahu, aku hanya ingin berlari dan berlari membayar sang waktu.

Langkahku berhenti di depan sebuah gerbang, ada dua orang satpam yang sedang bermain catur di sana. Aku hampiri kedua satpam tersebut lalu kuungkapkan keperluanku. Dan merekapun mempersilahkanku. Kucoba melihat jam tanganku, 22.37 . Sejenak kupandangi tempat itu, sudah sepi dan gelap, cuma ada beberapa lampu di pojokan yang masih menyala dan suara televisi dari pos satpam tadi. Jantungku berdetak semakin cepat walau aku tak dalam keadaan berlari, dan akupun semakin gusar. Aku melangkah masuk, selangkah dua langkah tiga langkah, pada langkah ketujuh aku menemukan seorang gadis sedang tertidur dalam duduknya. Pakaiannya sangat rapi, dan dipangkuannya terdapat sebuah map, dan AlQuran diatasnya. Kudekati dirinya, dan ketika aku berada persis didepannya tubuhku tiba-tiba diam membatu. Aku tak tahu harus bagaimana, seluruh hati dan pikiranku amat kacau. Dan gadis itu terbangun perlahan menyadari keberadaanku. Ia melihatku sekilas dengan wajah lelahnya lalu tiba-tiba ia membenamkan mukanya kedalam kedua belah tangannya dan menangis. Ia terisak-isak amat dalam, melihatnya hatiku yang telah lama kering ini, basah kuyup seketika.

11 tahun, ia menungguku dan malam ini kami bertemu…


Advertisements

Pulang Malam, Makan Sate

27 juli 2008, hari yang melelahkan bagiku. Setelah mengikuti rentetan acara MBC hari itu aku harus pulang malam. Malam itu aku pulang bersama lima temanku Yanwar, Rachmat, Aslih, Aat dan Lilian. Yanwar bertugas mengantarkan Lilian ke kosnya di daerah Taman Hewan. Aku menemani Yanwar – Rachmat meneman aku – Aslih menemani Rachmat – dan Aat menemani Aslih. Begitulah kami saling menemani. Kami menusuri jalan Ganesha sambil berharap tak ada kotoran burung jatuh di kepala kami. Lalu daerah taman hewan pun kami telusuri, lumayan jauh ternyata kos milik Lilian. Dan sesampai di depan kos Lilian kami berempat pun berbalik arah sedangkan Aat berjalan megikuti jalan lurus di depannya. Kami berempat terpaksa naik angkot Cicaheum berwarna hijau dan turun di pertigaan patung gajah karena angkot Cisitu yang biasa yang kami naiki sudah tidak ada beroperasi diatas pukul sembilan malam. Lalu kami meneruskan dengan jalan kaki dan berhenti disebuah warung makan sate ayam di pinggir jalan. Kami pun memesan 4 piring nasi dan memakannya dengan lahap. Dan aku menjadi juara karena paling cepat makan. Lalu kami berjalan lagi dan berjalan terus sambil membayangkan kasur dan bantal yang empuk. Satu persatu dari kami pun berpencar. Tinngal aku dan Rachmat. Seseorang temanku yang lain bernama Itong menghampiriku dengan sepeda motornya lalu aku dan rachmat membonceng hingga sampai ke depan pusdiklat geologi. Lalu kami turun dan berjalan lagi dengan cepat menyambut kasur dan bantal empuk di kamar.