Rindu Gila

Saat menulis posting ini, aku berharap bisa menuangkan rasa stresku. Sejam serasa setahun… sehari serasa seabad… Bolak-balik melihat layar Hape… Bolak balik melihat jendela…. Udah gak nafsu sama game… TVpun terasa kabur. Memang rindu bisa membuat seseorang berhenti dan terus menanti.

Itulah perasaan yang aku sedang rasakan saat menulis post ini. Rindu dengan keluarga dan sahabat.

Semakin sering aku bertemu dengan mereka. Semakin sakit rasa perpisahan itu. Semakin keras tawaku bersama mereka semakin keras tangisanku diujung.

Sempat aku merasa senang saat menyadari bahwa aku muak dengan game-gameku. Aku senang karena aku dapat fokus ke belajar. Tapi akan tetapi, pikiranku terasa buntu semuanya tersumbat oleh rasa rindu yang menggumpal keras.

Waktu telah menunjukkan masuk ashar. Akupun beranjak sholat ashar. Sesusai sholat, aku bertanya pada-Nya “Kenapa Kau menanamkan rasa rindu dalam hati manusia?. Rasa Rindu yang membuatku seperti mayat hidup ini. Berikan aku jawaban bagaimana cara mengatasi semua ini”

Memang untuk pertama kalinya rasa rindu ini membuatku terdiam. Tak ada gairah untuk melakukan suatu apapun. Perlahan tapi pasti, hati ini merapuh. Hanya berharap ada seseorang lain yang dapat menemani diriku yang sedang kesepian.

Kini aku percaya bahwa rasa rindu dapat membuat orang putus asa bahkan sampai bunuh diri.

Adakah sesuatu yang dapat membuatku bangkit dalam rinduku. Adakah pertemuan yang tanpa kata perpisahan.

Ya Allah, hambamu ini sangat lemah.

Wahai Dzat yang tidak membutukhan makhluknya, Aku membutuhkan keluargaku dan sahabatku.

<maaf tulisannya acak-acakan. lagi gak sempet menuangkan perasaan ini dalam bentuk puisi. Pikiran buntu sebuntu-buntunya>

Puasa Merindu

Puasa…..?

Aduh..aduh…

Jadi kebanyang hari-hari ketika aku berpuasa di Semarang.

Kini aku harus cari berbuka dan sahur sendiri.

Dulu, tiap pagi aku selalu berkata

” Umi… belanja apa? Mengko bukane apa to?” “Umi, belanja apa? Nanti berbuka dengan apa?

Atau, ketika sore aku harus dimarahi karena selalu menggangu Umiku masak di dapur, padalah maksudku baik yaitu untuk membantu umi agar masakan berbuka cepat selesai.

” Wis to gak usah ngrusuhi, tuku es batu wae kana. Ben umi wae sing masak” Udahlah gak usah mengganggu, beli es batu saja sana, Biar umi saja yang memasak” Kurang lebih begitulah kata-kata dari umi.

Alhasil hampir selama sebulan aku harus, menanti saat berbuka dengan jalan-jalan untuk menbeli es batu. Walaupun punya lemari es, tapi kami sekeluarga jarang sekali memakainya untuk membuat es batu.

Dan tak kalah menarik juga, saat sahur. Abahku selalu mengetuk pintu kamarku dengan keras. Aku selalu bangun karena kaget akan suara ketokan pintu yang keras itu.

“Fak..safak, sahur”seperti biasa suaraabahku terdengar sangat keras dan tegas

“Iya, abah” jawabku dengan tegas untuk meyakinkan bahwa aku siap untuk sahur.

Pernah beberapa kali aku atau adik-adikku, agak sulit dibangunkan sehingga membuat abah marah-marah lagi.

Lebih lucu lagi ketika kami bangun telat sehinga kami harus terburu-buru menyiapkan makan sahur, dan tak lupa ketingalan kemarahan abah atas kecerobohanku atau adikku.

Walaupun sering dimarahi dan harus berjalan kaki beli es batu, pokoknya aku merindukan saat berpusa bersama keluargaku….