1.5 Hz (Bagian 6)

Kupercepat langkahku, cepat-cepat dan akhirnya akupun berlari. Jantungku berdetak lebih cepat, mungkin dua kali lebih cepat dari biasanya. Tak kuperdulikan lagi penyakit yang ada dalam diriku. Yang kutahu, aku hanya ingin berlari dan berlari membayar sang waktu.

Langkahku berhenti di depan sebuah gerbang, ada dua orang satpam yang sedang bermain catur di sana. Aku hampiri kedua satpam tersebut lalu kuungkapkan keperluanku. Dan merekapun mempersilahkanku. Kucoba melihat jam tanganku, 22.37 . Sejenak kupandangi tempat itu, sudah sepi dan gelap, cuma ada beberapa lampu di pojokan yang masih menyala dan suara televisi dari pos satpam tadi. Jantungku berdetak semakin cepat walau aku tak dalam keadaan berlari, dan akupun semakin gusar. Aku melangkah masuk, selangkah dua langkah tiga langkah, pada langkah ketujuh aku menemukan seorang gadis sedang tertidur dalam duduknya. Pakaiannya sangat rapi, dan dipangkuannya terdapat sebuah map, dan AlQuran diatasnya. Kudekati dirinya, dan ketika aku berada persis didepannya tubuhku tiba-tiba diam membatu. Aku tak tahu harus bagaimana, seluruh hati dan pikiranku amat kacau. Dan gadis itu terbangun perlahan menyadari keberadaanku. Ia melihatku sekilas dengan wajah lelahnya lalu tiba-tiba ia membenamkan mukanya kedalam kedua belah tangannya dan menangis. Ia terisak-isak amat dalam, melihatnya hatiku yang telah lama kering ini, basah kuyup seketika.

11 tahun, ia menungguku dan malam ini kami bertemu…