1.5 Hz (Bagian 3)

“Zain, yuk ke masjid sekarang”

Namanya Faruq, umurnya 23 tahun tak jauh beda denganku. Mungkin hanya ia yang masih mau mengajakku berteman. Aku tak tahu apa yang ingin ia minta dariku. Aku tak tahu dibalik senyumannya padaku. Aku sudah terlalu lama sendiri sejak hari itu. Hari itu, satu dekade yang lalu aku kehilangan senyumku.

“Eh, Zain, besok buka bareng di rumahku yuk. Kau juga bisa mengajak beberapa temanmu” ajak Faruq sambil berjalan menuju masjid.

“Teman?” tak satu pun nama terlintas dalam benakku.

“Oh… . Baiklah kau bisa menganggapku sebagai temanmu” jawabnya dengan tenang.

“Terserah kau” kataku dengan nada datar.

“Baiklah, mulai hari ini aku temanmu. Sebagai gantinya, kau cukup mempercayaiku. Karena seorang teman selalu mempercayai temannya” tawarnya padaku

Kami berdua melewati sebuah gang kecil saat adzhan maghrib berkumandang. Ramadhan telah datang, dan aku masih belum tahu bahwa ramadhan kali ini akan mengubah hidupku.

Semburat tali cakrawala merah jambu, Ramadhan dan diriku


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: