1.5 Hz (Bagian 1)

Kuhabiskan sesendok nasi terakhir dari piringku itu, lalu kuambil sebuah gelas bening berisi air putih hangat disampingnya. Kuminum air itu, hangat… cukup hangat untuk shubuh yang dingin itu. Aku beranjak dari tempat dudukku menghampiri seorang wanita tua dibelakangku.

“Nasi, sop, ama ayam goreng.”kataku pelan sambil menyodorkan selembar uang sepuluhribuan kepadanya.

“Oh, enam ribu mas” katanya dengan ramah.

Kupandangi sejenak isi ruangan ini, hanya tinggal seorang pemuda dibawah sebuah lampu redup yang tak aku kenal masih sibuk bermain dengan sendok dan piringnya. Lalu perhatianku aku alihkan ke wanita tua tadi. Ia memberiku tiga lembar seribuan dan sekeping uang logam seribuan. Kumasukkan uang itu ke dalam sakuku, kuanggukkan kepalaku dan sedikit tersenyum kepadanya
lalu keluar dari tempat itu. Jalanan masih sepi dan sekali-kali udara dingin berhembus di atasnya.

Sepi, dingin dan kaku…
Dan di sana kematian menantiku…
28 Ramadhan 1430H, di sebuah jalan jiwa ini menangis ragu…


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: