Surat Cinta No.2

Selamat pagi, Allah

Terimakasih karena Kau telah membangunkanku, mengajakku untuk sahur…

Tadi aku sempat kaget lho…, kenapa? Soalnya aku mendengar dendang arak-arakan sahur keliling. Soalnya sejak hari pertama sahur, arak-arakan sahur itu tidak ada. Sempat aku berpikir bahwa tahun ini tak ada arak-arakan yang membangunkanku untuk sahur. Tapi, ternyata dugaanku salah dan aku senang karena dugaanku salah.

Ya Allah, aku ingin minta maaf karena kemarin aku tidak menyempatkan waktuku untuk sholat tarawih. Saat itu aku harus meyelesaikan laporan praktikum rangkaian elektrik. Aku juga malu, karena ternyata beberapa menit ketika mengerjakan laporan aku malah tertidur pulas. Sia-sia pengorbananku untuk shalat tarawih. Walaupun aku sering nakal tetapi malam itu sekitar pukul 11 malam Kau membangunkanku lagi. Akupun langsung sadar akan kelalaianku dan akupun langsung menantang komputerku untuk mengerjakan laporanku. Pukul menunjukkan 2 dini hari, Walaupun laporan belum selesai aku merasa ngantuk dan terbius pulas dalam ayunan mimpi semu. Beberapa kali aku membuka mataku, aku tahu bahwa aku harus makan sahur. Tapi mata kantuk ini membuatku malas untuk bangun. Dan hasil terburuk yang aku dapat yaitu aku tidak sahur. Setelah bangun dan melaksanakan aku langsung bermain lagi dengan komputer sampai waktu menunjukkan 12 siang. Dan… maafkanlah hambamu yang kotor ini ya… Allah. Karena sibuk mengerjakan laporan, aku tertinggal Sholat Jum’at. Mengetahui hal itu aku langsung menggantinya dengan sholat Dzuhur. Selain meminta maaf aku juga berterimakasih karena laporanku telah selesai dengan sempurna. Walaupun begitu, aku sempat tersenyum kecut melihat laporan yang dibuat dengan mengorbankan sholat tarawih dan jum’at.

Hiks…Hiks… (tangisan hati seorang Musyafa’) Ya..Rabbi, aku merasa sedih karena praktikum algoritma dan struktur dataku gagal habis.

Mengingat bahwa aku tidak sahur aku membeli makanan untuk berbuka puasa yang lebih dari biasanya. Tapi Alhamdulillah, semalam aku sempat shalat terawih. Walaupun aku shalat tarawih, tapi sesudahnya aku ketiduran lagi (“dasar pemalas”). Sampai pukul 2.00 tadi aku terbangun dengan masih berpakaian sarung dan baju koko.

Shubuh ini sungguh indah, entah pergi kemana si bulan. Ketidak hadiran si bulan, malah membuatku dapat melihat bintang dengan jelas. Melihat berjuta bintang itu, aku teringat akan Kau. Saat aku menulis surat ini ya… Allah, Aku berterima kasih karena kau selalu menyayangiku. Aku tahu bahwa aku selalu berbuat nakal, tetapi tanpa peduli kau terus memelukku. Tetes air mata terima kasih ini tak akan ku sia-siakan. Aku akan berusaha menjadi hambamu yang bisa kau banggakan.

Terima kasih….

Aku mencintaimu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: