Dulu, Kini, Nanti

Hari ini tepatnya pukul 4 sore aku menyaksikan sebuah acara treatrikal dari anggota muda Himpunan Mahasiswa Fisika HIMAFI di Tugu Soekarno. Acara yang bertemakan Dulu, Kini, dan Nanti menceritakan tentang perjalanan sejarah Indonesia dari jaman dahulu sampai esok kelak. Aku yang sudah lelah sore itu karena sebuah penantian yang membosankan, bangkit menuju Tugu Soekarno berharap mendapatkan sesuatu yang menarik. Sayang sekali, dua teman satu alumni SMA ku yang merupakan anggota muda HIMAFI 2007 hanya bertindak sebagai publikasi dan keamanan.
Teater ini dimulai dengan setting kerajaan Majapahit. Disitu diperlihatkan pengangkatan Gajahmada menjadi patih kerajaan oleh ratu Majapahit. Setelah itu sang Gajahmada dengan bangganya meneriakkan Sumpah Palapanya. Sumpah janji untuk tak memakan buah palapa sebelum menyatukan nusantara. Sumpah tersebut bearti bahwa patih besar kita tersebut tak akan merasakan manis madunya dunia sebelum menyatukan nusantara. Sebuah sumpah yang amat berisi semangat dan rasa optimis untuk menyatukan nusantara tercinta. Sebuah sumpah yang abadi dan tak lekang dimakan waktu.
Ketika sang Gajahmada telah puas meneriakkan sumpahnya, setting lalu berubah menjadi sebuah tempat pada tahu 1908. Beberapa orang pemuda dengan seriusnya berusaha mengingat naskah. Disana mereka mencetuskan sumpah pemuda. Sebuah sumpah yang menyatukan para rakyat Indonesia, sebuah sumpah yang merangkul cita cita Gajahmada.
Settingpun berpindah lagi. Tahun 2008, tahun dimana penuh dengan penindasan. “ Yang kaya makin kaya – Yang miskin makin miskin”. Begitulah hal yang ingin digambarkan saat itu. Ibu Pertiwi (bukan ibunya si tiwi) menangis. Lalu beberapa rakyat Indonesia saling menyalahkan satu sama lain atas kehancuran negara . Kasihan tuh Ibu, lagi nangis eh… lainya malah bentak-bentakan, dasar gak punya etika. 
Oh, iya sampe lupa kalo ada yang namanya Merah dan Putih. Disini Merah dan Putih diperankan oleh seorang laki-laki yag melumuri mukanya dengan warna merah dan dan seorang lagi bermuka putih. Aku sempat berpikir bahwa warna putih yang dipakai tersebut berasal dari bedak bayi yang beredar dipasaran karena aku sangat mengenal baunya saat si Putih berjalan di depanku. Hebat banget tuh bedak, dari kejauhan wanginya udah tercium. Kembali ke cerita lagi, disini si Merah Putih menyadarkan pada rakyat Indonesia untuk tidak saling menyalahkan. Dan salah satu dari si Merah atau Putih ( sori lupa ) menghibur Ibu Pertiwi. Lalu rakyatpun menjadi damai sebagai gambaran apa yang diharapkan pada masa datang nanti. Dan akhirnya Indonesia hidup bahagia selama-lamanya. Amin . Acarapun ditutup dengan sebuah nyanyian dan sebuah salam Ganesha.
Salam Ganesha
Bakti Kami Untukmu
Tuhan, Bangsa dan Almamater
Merdeka……..
Lalu aku meninggalkan tempat dan melanjutkan aktivitasku sendiri

Advertisements

2 Responses

  1. minta videonya donk

    By Dipo_teater beta

  2. @ wildan
    waduh, aku gak punya tuh…
    itu aja cuma ikut-ikutan lihat sambil jeprat-jepret pake kamera hape…

    Maap ya…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: